Sebuah Nasehat dari Guru

Sebuah Nasehat dari Guru
Oleh : L
Di kelas VII-B, ada seorang murid bernama Bimo yang terkenal nakal. Ia sering terlambat datang ke sekolah, mengganggu teman-temannya, bahkan kadang berbicara saat guru sedang menjelaskan pelajaran. Guru Bahasa Indonesia, Ibu Rahma, sudah beberapa kali menegurnya, tetapi Bimo tampak tak menggubris.
Suatu hari, setelah jam pelajaran selesai, Ibu Rahma memanggil Bimo ke mejanya. "Bimo, sebentar. Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu," kata Ibu Rahma dengan lembut.
Bimo mendekat dengan wajah cemberut. Ia tahu bahwa ini pasti soal kelakuannya yang sering membuat ribut di kelas.
"Bimo, Ibu tahu kamu bisa lebih baik dari ini. Kenapa kamu suka mengganggu pelajaran?" tanya Ibu Rahma.
Bimo menggelengkan kepala, seolah tak tahu jawabannya. "Gak tahu, Bu. Mungkin biar seru saja," jawabnya, mencoba terlihat santai.
Ibu Rahma menghela napas, kemudian berkata, "Bimo, kamu memang bisa bersenang-senang, tapi ingat, waktu yang kamu habiskan di sekolah sangat berharga. Kamu bisa menggunakan waktu itu untuk belajar dan berkembang. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, kamu akan kehilangan kesempatan besar di masa depan."
Bimo terdiam. Kata-kata Ibu Rahma masuk ke dalam pikirannya. Ia tidak tahu harus berkata apa, namun hatinya mulai terketuk. "Ibu yakin, saya bisa berubah, kan?" tanyanya pelan.
Ibu Rahma tersenyum. "Tentu, Bimo. Setiap orang bisa berubah, asal mau berusaha. Kamu punya banyak potensi, jangan sia-siakan itu."
Sejak saat itu, Bimo mulai berusaha lebih serius di kelas. Ia masih sesekali nakal, tetapi kali ini dengan cara yang lebih positif. Ia mulai aktif dalam diskusi kelas dan membantu teman-temannya. Ibu Rahma pun selalu memberikan dukungan dan memotivasi Bimo untuk menjadi lebih baik.
Perlahan, Bimo belajar bahwa berbuat baik dan menghargai waktu adalah jalan menuju masa depan yang lebih cerah.