Tipe-X dan Amarah

Tipe-X dan Amarah

Oleh : EN

Doni duduk di kursi ruang BK dengan kepala tertunduk. Tangannya masih terasa nyeri akibat perkelahian tadi. Di depannya, Bu Nurlaylah menatap dengan sorot mata lembut tapi tegas.  

“Apa yang terjadi, Doni?” tanyanya.  

Doni diam. Di sampingnya, Andi duduk dengan wajah masih merah padam. Sisa kemarahan terlihat di matanya.  

Bu Nurlaylah menghela napas. “Andi, kamu dulu yang cerita.”  

Andi langsung angkat bicara. “Bu, Doni merusak tipe-x saya. Saya sudah bilang jangan, tapi dia tetap mencoret-coret pakai tipe-x itu sampai rusak!”  

Doni menyela. “Itu nggak sengaja! Aku cuma iseng sedikit, eh patah.”  

“Tapi kamu ketawa pas aku marah!” balas Andi dengan suara meninggi.  

Bu Nurlaylah mengangkat tangan, meminta mereka tenang. “Lalu, kalian berkelahi?”  

Andi mengangguk. “Saya marah, Bu. Dorong dia, terus dia balas mukul.”  

Doni menunduk. “Saya emosi, Bu. Tapi saya nggak mau berkelahi tadi, cuma… saya kesel juga karena Andi dorong saya dulu.”  

Bu Nurlaylah tersenyum tipis. “Kalian sadar nggak kalau ini cuma soal tipe-x?”  

Andi dan Doni saling pandang. Sejenak, keduanya terdiam.  

“Saya ngerti, Andi, kamu marah karena barangmu dirusak. Dan Doni, kamu nggak sengaja, tapi kamu juga nggak langsung minta maaf, malah tertawa. Itu yang bikin Andi tambah kesal.”  

Doni menunduk. “Maaf, Ndik… saya nggak maksud.”  

Andi menghela napas. “Ya udah, Don. Tapi lain kali jangan gitu lagi.”  

Bu Nurlaylah tersenyum. “Bagus. Nah, Doni, besok bawa tipe-x baru buat Andi. Dan Andi, kalau ada masalah lagi, selesaikan dengan bicara, bukan dengan pukulan.”  

Keduanya mengangguk. Mereka keluar dari ruang BK dengan perasaan lebih lega.  

Siang itu, mereka belajar satu hal penting: kadang, amarah bisa merusak lebih dari sekadar tipe-x.