Si Biang Gaduh

Si Biang Gaduh
Oleh : EN
Bel istirahat baru saja berdering, namun suasana kelas 7B sudah riuh rendah. Bukan karena semangat belajar yang tinggi, tapi ulah Dani, si biang gaduh kelas itu. Dani memang bukan siswa yang bodoh, tapi dia punya "bakat" luar biasa dalam membuat teman-temannya kesal.
Hari ini, sasarannya adalah Rina, si kutu buku yang selalu asyik dengan dunianya sendiri. Dani diam-diam menaruh karet gelang di kursi Rina, berharap Rina akan terkejut saat duduk nanti.
"Rasain lo, Rina!" gumam Dani sambil terkekeh geli.
Rina yang tidak menyadari jebakan itu, duduk dengan santai. Sontak, karet gelang itu melompat dan mengenai punggungnya. Rina terkejut dan menoleh ke arah Dani dengan tatapan kesal.
"Dani, apaan sih!" seru Rina marah.
Dani bukannya meminta maaf, malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, muka lo lucu banget, Rina!" ejeknya tanpa rasa bersalah.
Tidak hanya Rina yang menjadi korban kejahilan Dani. Hampir semua teman di kelasnya pernah menjadi sasaran. Ada yang diganggu saat mengerjakan tugas, ada yang diejek karena penampilannya, bahkan ada yang sampai menangis karena ulahnya.
Suatu hari, Pak Budi, wali kelas 7B, mengadakan rapat dengan orang tua siswa. Salah satu agenda yang dibahas adalah kenakalan Dani. Pak Budi menceritakan semua kelakuan Dani di kelas dan betapa banyak teman-temannya yang merasa terganggu.
Orang tua Dani terkejut mendengar cerita Pak Budi. Mereka tidak menyangka bahwa anak mereka yang terlihat pendiam di rumah, ternyata sangat nakal di sekolah.
Setelah rapat selesai, orang tua Dani menghampiri Dani dan menasehatinya dengan serius. Mereka menjelaskan bahwa perbuatan Dani itu tidak baik dan bisa merugikan dirinya sendiri. Dani akhirnya menyadari kesalahannya dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik.
Sejak saat itu, Dani mulai belajar menahan diri untuk tidak mengganggu teman-temannya. Dia mulai fokus pada pelajaran dan mencoba berinteraksi dengan teman-temannya secara positif.
Awalnya, teman-temannya masih curiga dan tidak percaya dengan perubahan Dani. Tapi, Dani terus berusaha membuktikan bahwa dia benar-benar ingin berubah.
Hari demi hari berlalu, Dani semakin menunjukkan perubahan yang signifikan. Dia tidak lagi membuat gaduh di kelas, tidak lagi mengejek teman-temannya, dan bahkan mulai membantu mereka jika kesulitan dalam belajar.
Teman-temannya pun mulai percaya dan menerima Dani yang baru. Mereka melihat Dani sebagai teman yang asyik dan menyenangkan. Dani pun merasa senang karena akhirnya bisa diterima di lingkungan pertemanannya.
Dari Dani, kita belajar bahwa setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, asalkan ada niat dan kemauan yang kuat.