Kantin adalah Kelasnya

Kantin adalah Kelasnya
Oleh : EN
Fajar belum juga sempurna menyingsing, tapi Raka sudah siap dengan seragam SMP-nya. Bukan untuk berangkat sekolah, tapi untuk nongkrong di kantin. Baginya, kantin adalah kelasnya. Di sana dia belajar banyak hal, meski bukan pelajaran sekolah.
Raka memang siswa yang "unik". Dia lebih betah berlama-lama di kantin daripada di kelas. Bukan berarti dia bodoh atau malas belajar. Raka hanya punya dunianya sendiri. Dunia yang lebih berwarna daripada angka-angka dan rumus-rumus.
Di kantin, Raka bertemu dengan berbagai macam orang. Ada ibu kantin yang selalu cerewet tapi perhatian, ada bapak-bapak yang suka main catur sambil ngopi, ada juga anak-anak sekolah lain yang punya cerita seru. Dari mereka, Raka belajar tentang kehidupan, tentang bagaimana menjadi orang yang baik, tentang bagaimana menghadapi masalah.
Raka juga jago bergaul. Dia bisa mencairkan suasana dengan celetukannya yang lucu. Dia bisa membuat orang lain tertawa, bahkan ketika hati mereka sedang sedih. Raka adalah magnet bagi banyak orang.
Namun, ada satu hal yang membuat Raka merasa tidak nyaman. Dia seringkali merasa bersalah karena jarang masuk kelas. Dia tahu, apa yang dilakukannya tidak benar. Tapi, dia juga tidak tahu bagaimana cara mengubah kebiasaannya.
Suatu hari, ibu kantin melihat Raka termenung sendirian. Ia menghampiri Raka dan bertanya, "Kamu kenapa, Raka? Kok kelihatan murung?"
Raka bercerita tentang kegelisahannya. Ia ingin berubah, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ibu kantin tersenyum dan berkata, "Raka, kamu itu anak yang pintar dan baik. Kamu punya potensi yang besar. Jangan biarkan rasa bersalahmu menghantuimu. Cobalah untuk berani menghadapi kelasmu. Siapa tahu, kamu akan menemukan hal yang menarik di sana."
Kata-kata ibu kantin menyentuh hati Raka. Ia mulai berpikir, mungkin ibu kantin benar. Mungkin selama ini ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.
Keesokan harinya, Raka memberanikan diri untuk masuk kelas. Awalnya, ia merasa canggung dan malu. Tapi, ia mencoba untuk tetap tenang dan mengikuti pelajaran dengan baik.
Ternyata, apa yang dikatakan ibu kantin benar. Di kelas, Raka menemukan hal-hal yang menarik. Ia mulai menyukai pelajaran matematika, karena gurunya yang asyik dan pintar. Ia juga mulai tertarik dengan pelajaran bahasa Inggris, karena ia ingin bisa berbicara dengan orang-orang dari negara lain.
Raka tidak lagi merasa bersalah dan takut. Ia mulai menikmati sekolahnya. Ia tetap nongkrong di kantin, tapi ia juga tidak melupakan kelasnya. Ia belajar menyeimbangkan antara dunia kantin dan dunia kelas.
Raka akhirnya menjadi siswa yang berprestasi. Ia juga menjadi siswa yang populer dan disukai banyak teman. Raka membuktikan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.