Warga Spenlim Melepas Penat di Wadu Mbolo Jelang Ramadhan

Sebelum heningnya malam-malam Ramadhan tiba, warga  Spenlim memilih untuk "melepas penat" di Wadu Mbolo pada Rabu (26/2). Bukan sekadar rekreasi biasa, perjalanan ini adalah ritual kecil, sebuah persiapan mental sebelum memasuki bulan penuh refleksi.

Di antara deburan ombak dan semilir angin laut, para guru dan staf TU Spenlim menemukan jeda dari rutinitas. Mereka tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga kebersamaan yang akan menjadi bekal saat menjalankan ibadah puasa.

"Kami butuh jeda ini, bukan hanya untuk fisik, tapi juga mental. Ramadhan butuh kesiapan hati, dan kebersamaan ini adalah salah satu caranya," ungkap seorang guru, sambil menatap hamparan laut.

Wadu Mbolo, dengan kesederhanaannya, menjadi saksi bisu tawa dan obrolan hangat. Tanpa kemewahan, mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, dalam momen-momen sederhana yang sering terlupakan di tengah kesibukan.

"Ini bukan tentang tempatnya, tapi tentang siapa yang ada di sana. Kebersamaan ini yang akan kita bawa saat Ramadhan, saat kita saling mengingatkan dan mendukung," kata seorang staf TU.

Di balik tawa dan canda, terselip doa dan harapan. Semoga perjalanan ini menjadi pengingat, bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan hati dan mempererat tali persaudaraan.

"Semoga dengan hati yang bersih, kita bisa menyambut Ramadhan dengan lebih khusyuk," harap mereka, sambil menatap matahari yang mulai tenggelam.

Perjalanan ke Wadu Mbolo bukan sekadar wisata, tetapi sebuah ritual kecil, sebuah persiapan hati sebelum memasuki bulan suci.