Rahasia di Balik Punggung (Bagian 9)

Rahasia di Balik Punggung (Bagian 9)

By : End


Mereka berlari menyusuri gang sempit, napas tersengal, jantung berdegup kencang. Bayangan pria berhoodie tadi masih terpatri di benak Lisa.

“Kita harus ke tempat aman dulu,” bisik Dion.

“Kemana?” tanya May panik.

Lisa berpikir cepat. “Rumah nenekku. Tidak jauh dari sini, dan tidak ada yang akan mencurigai kita ke sana.”

Tanpa ragu, mereka berbelok ke arah yang Lisa tunjuk. Mereka berlari sejauh mungkin, menjauh dari rumah Lisa yang mungkin masih diawasi.

Begitu sampai di rumah nenek Lisa, mereka mengetuk pintu dengan panik. Seorang wanita tua dengan wajah hangat membukakan pintu.

“Lisa? Ada apa?” tanyanya heran.

Lisa tersenyum tipis, berusaha menutupi ketegangan. “Nenek, bolehkah kami menginap malam ini?”

Neneknya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Mereka masuk, mengunci pintu, dan akhirnya bisa mengatur napas.

Namun, ketegangan belum berakhir.

Dion segera mengeluarkan ponselnya. “Aku akan coba lacak nomor misterius itu.”

Lisa menatapnya dengan cemas. “Apa bisa?”

Dion mengetik beberapa perintah, lalu menunggu. Beberapa detik kemudian, layar ponselnya menampilkan hasil pencarian.

Nomor tidak dikenal – Terdaftar atas nama…

Mata Dion membelalak. “Ini… mustahil.”

Lisa dan yang lain mendekat. Nama yang muncul di layar membuat mereka semua menahan napas.

Henri, S.Pd.

Lisa merasakan tubuhnya melemas. “Itu… Kepala Sekolah kita.”

Rinea menutup mulutnya dengan tangan. “Jadi, selama ini… dia tahu? Dia yang mengawasi kita?”

Dion menggeleng. “Aku tidak yakin. Bisa saja ada orang lain yang menggunakan namanya.”

May mendesah. “Atau justru dia memang terlibat lebih dalam dari yang kita kira?”

Lisa menggenggam dokumen erat-erat. “Kalau benar Kepala Sekolah sendiri yang mengancam kita… berarti ini lebih besar dari yang kita duga.”

Mereka saling berpandangan, ketakutan mulai merayap.

Di luar, angin malam berhembus kencang.

Lalu, ponsel Lisa bergetar. Sebuah pesan masuk.

“Jangan lari. Aku selalu tahu di mana kalian berada.”

Lisa menelan ludah. Perlahan, ia menoleh ke jendela.

Di seberang jalan, di balik bayangan pohon, seseorang berdiri mengawasi mereka.

Mereka tidak sendirian.


Bersambung........