Gemerlap THR dan Impian yang Terpendam

Gemerlap THR dan Impian yang Terpendam
Hari Raya Idulfitri 1446 H telah berlalu, meninggalkan jejak kebahagiaan dan kenangan indah. Di antara riuhnya takbir dan hangatnya silaturahmi, ada satu hal yang menarik perhatianku: lembaran-lembaran rupiah yang terkumpul dari amplop-amplop THR.
Awalnya, aku tergoda untuk menghabiskan semuanya. Mata ini tergiur oleh gemerlap diskon pakaian, aroma harum makanan lezat, dan deretan mainan yang menggoda. Namun, sebuah bisikan kecil di hati menahanku. "Simpanlah, Nak. Ada impian yang lebih besar menanti."
Maka, dengan hati-hati, aku mulai menyisihkan setiap lembar rupiah. Kuikat erat dengan karet gelang, seolah mengikat impianku sendiri. Setiap kali melihat tumpukan uang itu bertambah, hatiku berdesir bahagia.
Aku membayangkan diriku di masa depan, berdiri di depan toko buku impian. Di tanganku, sebuah buku tebal tentang astronomi, impianku sejak kecil. Atau mungkin, sebuah teleskop sederhana, untuk mengintip keindahan langit malam.
Aku tahu, uang THR ini tidak akan cukup untuk mewujudkan semua impianku. Tapi, ini adalah langkah awal. Sebuah bukti bahwa aku mampu mengendalikan diri, menahan godaan duniawi, dan fokus pada tujuan yang lebih mulia.
Setiap lembar rupiah yang kutabung adalah simbol dari perjuanganku. Perjuangan melawan keinginan sesaat, perjuangan untuk meraih cita-cita, dan perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kini, aku tersenyum menatap tumpukan uang itu. Ia bukan sekadar lembaran kertas biasa, melainkan lembaran harapan, lembaran impian, dan lembaran masa depan.
Semoga, di Idulfitri tahun depan, tumpukan ini akan semakin tinggi, dan impianku akan semakin dekat.
(S1)