HR. Bukhari dan Muslim
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Makna:
Hadits ini adalah prinsip dasar yang sangat praktis dan fundamental dalam etika komunikasi Islami yang berlaku setiap hari. Nabi Muhammad SAW menjadikan kualitas perkataan sebagai indikator langsung dari keimanan seseorang kepada Allah dan keyakinan akan pertanggungjawaban di Hari Akhir. Ini berarti, jika seseorang yakin akan ada hari perhitungan, ia akan sangat berhati-hati dengan apa yang ia ucapkan.
Pilihan yang diberikan sangat sederhana dan jelas: "berkata yang baik" (khairan) atau "diam" (liyasmut). Hadits ini menghilangkan area abu-abu dalam komunikasi. Perkataan yang baik mencakup dzikir, nasehat, senyum verbal, dan pujian yang jujur. Sebaliknya, jika perkataan cenderung mengarah pada ghibah, fitnah, kebohongan, atau perkataan sia-sia, maka opsi yang lebih baik dan lebih aman secara spiritual adalah diam.