Dialog Pasca-Kunjungan: Mengungkap Fakta demi Masa Depan Siswa
Selasa, 20 Januari 2026 – Segera setelah kembali dari kediaman siswa, Ibu Sri Haryanti dan Ibu Nurhunaida langsung menuju ruang kepala sekolah. Langkah mereka terukur, membawa informasi penting yang harus segera didiskusikan dengan Pak Abdi. Pertemuan ini menjadi krusial sebagai jembatan komunikasi antara fakta di lapangan dan kebijakan sekolah.
Di ruang kerja kepala sekolah, kedua guru BK tersebut menyampaikan laporan dengan saksama. Mereka menceritakan betapa hangatnya sambutan dari wali murid, namun di balik keramahan itu, terungkap sebuah kenyataan yang mengejutkan.
"Dari hasil diskusi dengan ibunya, terungkap bahwa anak tersebut setiap pagi berpamitan dengan seragam lengkap dan berpamitan untuk berangkat sekolah. Namun, kenyataannya ia tidak pernah sampai di gerbang sekolah," lapor Ibu Sri Haryanti.
Mendengar laporan tersebut, Pak Abdi tidak lantas memberikan sanksi keras. Beliau justru mengajak tim BK untuk membedah masalah ini dari sudut pandang pendidikan karakter.
- Disintegrasi Komunikasi: Ada jarak informasi antara apa yang diketahui orang tua dan apa yang dicatat oleh sekolah.
- Pengaruh Lingkungan: Muncul dugaan adanya titik kumpul atau pengaruh teman di luar lingkungan sekolah yang membuat siswa tersebut enggan sampai ke kelas.
Pak Abdi memberikan apresiasi atas gerak cepat Ibu Sri dan Ibu Nur. Beliau menegaskan bahwa temuan ini adalah pintu masuk untuk membimbing siswa tersebut secara lebih intensif, bukan untuk memojokkannya.
"Terima kasih Ibu Sri dan Ibu Nur. Informasi ini sangat berharga. Ini membuktikan bahwa home visit adalah kunci. Sekarang kita tahu masalahnya bukan pada izin orang tua, tapi pada kedisiplinan dan kejujuran siswa di perjalanan. Kita akan lakukan pendekatan persuasif, panggil siswanya besok, dan rangkul dia agar merasa sekolah adalah tempat yang lebih menarik daripada tempat nongkrongnya," tegas Pak Abdi.
Diskusi itu menghasilkan beberapa poin kesepakatan:
- Pendampingan Khusus: Guru BK akan melakukan konseling individu untuk mencari tahu alasan siswa tersebut "mampir" di jalan.
- Kerja Sama Ketat: Orang tua diminta untuk melakukan konfirmasi via pesan singkat kepada wali kelas setiap kali anak berangkat.
- Pemantauan Lingkungan: Pihak keamanan sekolah diminta lebih waspada terhadap siswa yang terlihat di sekitar area sekolah namun tidak masuk saat jam pelajaran dimulai.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan komitmen bersama bahwa misi utama SMPN 5 Kota Bima adalah memastikan tidak ada satu pun siswa yang "hilang" dari radar pendidikan, karena setiap anak berhak atas pendampingan yang tulus. (Tim WEKI)