Bina Baca bagi Siswa Kurang Mahir Membaca di Spenlim

Kota Bima, Jum'at 6 Februari 2026_

Bagi para guru di SMPN 5 Kota Bima, kemampuan membaca bukan sekadar tuntutan kurikulum, melainkan "kunci pembuka pintu dunia" bagi masa depan siswa. Oleh karena itu, pendampingan dilakukan secara intensif dan personal.

  • Bimbingan Satu per Satu: Guru memberikan perhatian penuh kepada setiap siswa, menyesuaikan kecepatan belajar dengan kemampuan masing-masing tanpa ada tekanan.
  • Media Belajar Kreatif: Bukan hanya menggunakan buku teks yang kaku, guru sering kali menggunakan kartu kata berwarna-warni atau cerita pendek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di Kota Bima untuk memantik minat siswa.
  • Ruang Guru sebagai Ruang Aman: Meskipun dilakukan di ruang guru, suasana dibangun dengan hangat dan santai. Tujuannya agar siswa tidak merasa sedang "dihukum", melainkan sedang dibantu untuk tumbuh.

Kegiatan ini dilakukan secara rutin. Para guru dengan sukarela menyisihkan waktu istirahat mereka, menyadari bahwa setiap menit yang dihabiskan untuk mengeja bersama siswa adalah investasi besar bagi kepercayaan diri anak didik mereka.

Siswa yang tadinya tertunduk malu karena tidak lancar membaca, perlahan mulai berani bersuara. Suara terbata-bata yang mengeja "A-ku su-ka be-la-jar" berubah menjadi senyum lebar saat mereka berhasil menyelesaikan satu kalimat utuh.

"Kami tidak ingin ada satu pun anak yang tertinggal hanya karena mereka belum mahir membaca. Di ruang ini, kami bukan sekadar mengajar abjad, tapi membangun harapan," ujar salah satu guru pendamping.

Melalui program Bina Baca ini, SMPN 5 Kota Bima membuktikan bahwa pendidikan yang inklusif dimulai dari kepedulian. Ruang guru yang biasanya formal kini menjadi saksi bisu perjuangan kecil yang akan berdampak besar bagi kemajuan literasi generasi muda Bima. (Tim WEKI)