Lestarikan Budaya Mbojo, Guru dan Siswa SMPN 5 Kota Bima Kompak Buat Kerajinan 'Jungge'

KOTA BIMA – Di tengah gempuran modernisasi, SMP Negeri 5 Kota Bima (Spenlim) terus berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal. Komitmen ini dibuktikan melalui kegiatan kreatif yang digelar pada Rabu (10/6/2026), di mana para guru dan siswa berkolaborasi bersama membuat kerajinan tangan tradisional khas suku Bima, yaitu Jungge.

Bagi masyarakat suku Bima (Mbojo) di Nusa Tenggara Barat, Jungge bukanlah hiasan biasa. Ini adalah mahkota atau hiasan kepala tradisional yang berfungsi sebagai pelengkap busana adat wanita. Hiasan ini sangat identik dengan desainnya yang menyerupai bunga goyang atau Jungge Dondo, yang berkilau dan mampu memberikan kesan anggun serta elegan bagi siapa saja yang mengenakannya.

Dalam kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut, para guru turun langsung mengajarkan kepada siswa tentang teknik dan langkah-langkah detail cara membuat Jungge.

Tidak sekadar membuat prakarya, esensi utama dari kegiatan ini adalah menanamkan rasa cinta dan misi melestarikan budaya Bima sejak dini kepada generasi muda. Para siswa tampak sangat antusias memperhatikan penjelasan guru, mulai dari tahap awal hingga proses finishing.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu produk jadinya saja, tetapi juga menghargai proses pembuatannya. Melalui kegiatan ini, kami menyelipkan edukasi nilai sejarah agar mereka bangga menjadi generasi penerus suku Mbojo yang kaya akan budaya," ujar Ibu Rahma, salah satu guru pendamping.

Dalam proses pembuatannya, para siswa diajarkan untuk memadukan berbagai elemen bahan agar menghasilkan mahkota yang indah. Berdasarkan pakem tradisinya, berikut adalah detail fungsi dan bahan Jungge yang dipelajari siswa:

  • Kelengkapan Busana Adat: Jungge biasanya disematkan pada gelung rambut atau sanggul penari tradisional, serta dikenakan oleh wanita Bima saat menghadiri upacara adat maupun festival budaya.
  • Perpaduan Elemen Bahan: Untuk membuat replika mahkota ini, para guru dan siswa mengkreasikannya menggunakan kombinasi bahan modern namun tetap terkesan klasik, seperti pita satin, manik-manik, dan kain renda.

Dengan telaten, jemari para siswa merangkai pita satin dan manik-manik hingga membentuk kelopak bunga khas Jungge Dondo. Hasil karya yang berkilau ini nantinya akan dipajang sebagai produk unggulan sekolah, bahkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pementasan seni tari di SMPN 5 Kota Bima.

Melalui kegiatan positif pada hari Rabu tersebut, SMPN 5 Kota Bima berhasil membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi benteng pertahanan budaya yang menyenangkan bagi generasi Z dan Alfa. (End)